Outbound Coban Rondo Malang

Outbond Coban Rondo Malang

Kegiatan outbound kami adalah Gabungan dari outbound team building, Psikologi dan leadership. Artinya kami selalu menyertakan nilai-nilai psikologis, kebersamaan dan kepemimpinan di setiap game/permainan. Kami juga selalu mengamati perilaku personal dan kelompok pada saat kegiatan outbound berlangsung.

  1. Paket Executive @Rp 120.000 /orang

Paket yang dikhususkan bagi perusahaan yang menginginkan kegiatan outbound yang lengkap, interaktif, fun and safety. Menjalin kerjasama yang baik. Membangun keakraban, leadership, team building dan Penuh Keceriaan.

Fasilitas yang kami berikan :

  • Tiket masuk wisata Area Outbond
  • Instruktur dan fasilitator yang berpengalaman
  • Aneka permainan yang menarik dan kreatif
  • Peralatan standard outbound
  • Sewa lahan
  • Makan 1x (nasi kotak)
  • Mineral water
  • Ice breaking
  • Fun games (Team building & Problem Solving

– Peserta Minimal 30 orang.

Info lebih lanjut hubungi customer kami (Tina/0813 3337 2552)

Pantai Goa China

Pantai Goa China

Pantai Goa China dengan keindahan 3 pulau

-Perjalanan tim Jelajah Seribu pantai ibu Pantai (JSP) dihari ke sembilan bergeser ke Pantai Goa China, Dusun Tumpak Awu, Desa Sitiarjo, Sumbermanjing Wetan. Nama asli pantai ini adalah Pantai Rowo Indah. Namun karena pernah terjadi peristiwa kematian seorang China yang sedang bertapa didalam goa yang ada di kawasan pantai ini, nama Rowo Indah .berubah menjadi Goa China sampai sekarang. Tidak ada catatan resmi tahun berapa tragedi itu terjadi. Namun warga sekitar pantai meyakini sekitar 20 tahunan silam. Dari Pantai Bajulmati, Desa Gajahrejo, Gedangan, menuju Pantai Goa China ini hanya butuh waktu 15 menit saja. Karena dua pantai ini hanya berjarak tak lebih dari 7 kilometer. Aksesnya pun sangat mudah karena melewati jalur lingkar selatan (JLS) dengan aspal yang mulus.

Pantai ini meruakan destinasi wisata di malang . Sebelum ke Pantai Goa China, sebenarnya masih ada satu pantai, yakni Pantai Ungapan. Pantai ini baru satu tahun ini dikelola. Sebenarnya Pantai Ungapan ini masih satu garis dengan Pantai Bajulmati. Namun, saking panjangnya, Pantai Bajulmati akhirnya dibagi dua dengan Pantai Ungapan.

Usai melewati Pantai Ungapan, tim JPS berhenti sejenak di Jembatan Bajulmati yg berada di atas muara laut tersebut. Jembatan tersebut memiliki panjang sekitar 80 meter dengan lebar sekitar 20 meter untuk dua jalur. Arsitekturnya juga cukup bagus dengan tiang melengkung di tengah jembatan dengan posisi membujur. Ketinggian tiang mencapai 20 meter. Model jembatan ini khas sekali sehingga cukup artistik. Jarak sekitar satu kilometer ke arah timur dari jembatan itu, ada pintu masuk menuju Pantai Goa China. Sayang, akses dari JLS menuju Pantai Goa China agak susah. Sekitar 500 meter jalan rusak parah. Jalannya sebenarnya cukup luas, namun karena jalan dari tanah tak rata plus banyaknya bebatuan kapur sebesar bola sepak. Apalagi ketika tergenang hujan, jalan cukup lembek dan licin.

Namun sulitnya medan itu sebanding dengan panorama alam yang disajikan Pantai Goa China. Luas view Pantai Goa China tak begitu luas. Namun keberadaan tiga pulau yang berada di tengah – tengah pantai, membuat pemandangan lebih indah. Tiga pulau itu adalah pulau Bantengan, Pulau Goa China, dan Pulau Nyonya. Di pinggir pantai ini juga cukup asri. Pohon – pohon berbagai jenis, seperti pohon cembirit, ketapang, dan pohon jenis tutup berjajar rapi di area pinggir pantai. Pohon – pohon ini cukup meneduhkan pengunjung. Apalagi di bibir pantai yang cukup jernih hingga kelihatan batu karangnya. Di kawasan itu juga terdapat banyak pohon pandan laut yang cukup menyejukkan.

Selain popular dengan keberadaan goanya, pantai ini juga menyajikan fenomena alam yang langka. Yakni, terjadinya gelombang bersimpangan tak karuan dari tiga arah, selatan, timur, dan barat. Arus gelombang itu selalu bertabrakan di antara Pulau Bantengan dan Pulau Nyonya. Karena arus gelombang yang bertabrakan demikian kuat, sehingga memunculkan suara gemuruh besar. Inilah salah satu fenomena alam yang cukup langka di Pantai Malang Selatan.

Karena besarnya ombak, tak ada perahu nelayan yang berani bersandar di pantai ini. Kawasan Pantai Goa China ini hanya jadi jalur lalu lintas para nelayan dari segala penjuru menuju Pantai Sendangbiru. “Coba Anda lihat kalau malam, di tengah pantai ini seperti kota. Banyak lampu – lampu dan perahu para nelayan berseliweran,” terang Sukari, warga yang sudah tinggal cukup lama di pantai tersebut.
Tim Jelajah Seribu Pantai (JSP) Jawa Pos Radar Malang tak puas hanya mengeksplorasi alam di wilayah Gedangan. Tim JSP dengan personel Abdul Muntholib (wartawan), Doli Siregar (fotografer), Jigur DM (driver), serta dua guide local Lugu Wasono dan Sinyo Mahmudi mencoba menyisir ke perkampungan di Desa Gedangan Kecamatan Gedangan
Dari Pantai Bajumati menuju Desa Gedangan butuh waktu 1,5 jam. Untuk jarak sebenarnya tak lebih dari delapan kilometer. Namun karena jalanya berkelok, menanjak dengan penuh bebatuan tajam, lalu mobil yang dikendarai tim JSP tak bisa kencang. Sehingga malam itu, driver Jigur DM harus lihai memilih jalan menghindari bongkahan batu-batu dan lubang di tengah jalan. Ini padahal, jalan raya menuju kota kecamatan. Rusaknya sagat parah sepanjang sekitar 6 km dari Pantai Banjulmati, Desa Gajahrejo, Gedangan. Baru setelah itu, tim JSP menemukan jalan beraspal mulus ketika sudah mau masuk di Desa Gedangan.
Tujuan ke kota kecamatan tersebut untuk menggali potensi masyarakat sekitar. Salah satunya ke rumah Taufik Hidayat, pengusaha muda sukses di bidang variasi motor. Namun karena datang ke desa itu sudah malam dan gerimis, tim JSP memilih istirahat di rumah warga menggu pagi.
Baru pada pagi harinya, ketika datang ke rumah Taufik, Tim JSP dibuat heran dengan produksi variasi moor. Sama sekali tak menyangka, ternyata variasi motor sejenis bordas (alas kaki motor vatic) dengan berbagai jenis model, knalpot, peralatan olahraga seperti tongkat pelari estafet adalah hasil tangan Taufik Hidayat. Produknya pun sudah menguasai wilayah Malang Raya dan sekitarnya. Bahkan khusus produk tongkat estafet, sudah digunakan oleh atlet seluruh Indonesia. Sebab, telah disorder oleh KONI. ”Khusus tongkat estafe ini, saya harus produksi dua ribu setiap mingunya,” ungkap Taufik ditemui di rumah sekaligus pabriknya di Gedangan.
Untuk knalpot membikin beragam model. Di antaranya model F4 (persegi empat), F3 (tri oval), dan knalpot polos. Seua bentuk dan motifnya selalu berbeda. “Persaingan ketat bagi saya tidak ada masalah, yang penting adalah terus menjaga kualitas,” tandas Taufik.
Kemampuan Lajang kelahiran 1982 ini mendirikan pabrik variasi motor berawal dari coba-coba saja. Ia awalnya melihat teman-temanya mengutak-atik mesin motor lalu menambah variasi motornya. Dari situ ia amati terus hingga tercetus ide ingin membikin sendiri. Sebab ia yakin bahwa variasi motor suatu saat akan menjadi kebutuhan pengguna motor. Sehingga tiga tahun lalu, ia mulai mencoba membuat sendiri variasi motor. Modal awalnya tak lebih dari Rp 10 juta. Respons pasar ternyata cukup bagus sehingga usahanya berkembang. Kini, dari usaha coba-coba itu industrinya sudah memiliki 15 karyawan. “ Saya terus akan mengembangkan usaha ini kalau sudah ada modal yang lebih besar lagi. Sebab, ada satu mesin yang harus saya miliki, namun belum mampu beli. Harganya satu mesin sampai Rp 60 juta,” urai Taufik.
Untuk sementara, imbuh Taufik, dirinya akan memaksimalkan mesin dan tenaga kerja yang ada untuk penetrasi pasar.

Orang China Kepincut Goa
KEBERADAAN goa di pantai Rowo Indah (nama lama Pantai Goa China), menyedot perhatian kalangan etnis China. Entah apa yang mereka cari dan temukan, yang jelas goa yang berada di sisi kanan pantai sekitar 50 meter dan berada di bukit karang itu menjadi jujukan orang-orang keturunan tersebut. Mereka di hari-hari tertentu, datang ke goa itu. Sebagian ada yang datang sebentar, namun tak jarang yang sampai menginap di dalamnya.
Namun itu dulu.Saat ini, sudah tak banyak lagi orang China yang datang ke Goa tersebut. Ini setelah tragedy ada orang China yang bertapa di dalam goa hingga mengalami sakit dan meninggal. Tragedi tersebut sekitar 20 tahun silam. “Sejak itu pula orang-orang sekitar pantai menamakan pantai ini dengan Pantai Goa China,” tandas Sukari, warga asal sumbermanjing wetan yang tinggal di bibir pantai.
Goa tersebut sebenarnya tak begitu bagus. Hanya rongga biasa yang menjorok sekitar 8 meter dengan ketinggian sekitar 2 meter. Siapapun bisa dengan mudah masuk. Ruangan di dalamnya juga cukup lebar, bisa untuk dua orang berjalan beriringan. Lebarnya kira-kira 2 meteran. Meski namanya goa, tapi tidak terlihat batu-batu stalaktit maupun stalakmit. Yakni batu-batu yang menjorok tajam dari atas goa maupun dari sisi tebing maupun dasar goa. Jadi goa ini lebih pas disebut sebagai rongga yang ada di dalam batu karang. Meski begitu, goa terlihat memiliki nilai magis yang kuat.

Pantai Nganteb

Pantai Ngantep

PERJALANAN tim Jelajah Seribu Pantai (JSP) Jawa Pos Radar Malang pada hari ketujuh memasuki Pantai Nganteb dan Pantai Wonogoro. Butuh waktu sekitar 1 jam dari Sungai Berek di Perbatasan Kecamatan Bantur dan Kecamatan Gedangan menuju Pantai Nganteb

Jaraknya sebenarnya tak terlalu jauh. Tak lebih dari 7 km. Namun, karena jalan yang dilalui cukup terjal, mobil tidak bisa melaju cepat. Bebatuan putih kapur nan licin menghiasi seluruh ruas jalan. Belum lagi lubang-lubang di jalan memaksa Jigur D.M.-sopir Chevrolet Colorado, kendaraan double cabin yang digunakan tim JSP- harus cekatan untuk menghindarinya

Namun, susahnya perjalanan langsung terobati begitu sampai di Pantai Nganteb. Semilir angin lembut menyambut kedatangan tim JSP di pantai Ngantebyang berada di Dusun Sukorejo, Desa Tumpakrejo, Gadangan.

Pepohonan rindang jenis kaben berusia lebih dari 50 than menjulang tinggi berjajar di area parkir pantai. Suasan begitu sejuk meski di siang terik matahari. Bunga-bunga pandan dengan warna merah merekah menambah suasana pantai kian asri dan indah. Pendek kata, Pantai Nganteb sangat cocok bagi wisatawan yang ingin menenangkan pikiran dari hiruk-pikuk kehidupan.

Bukan hanya itu pemandangan indah Nganteb. Hamparan pasir putih nan luas, sekitar satu kilometer, tampak bersih. Pantai ini nyaris masih perawan.

Pantai ini baru satu tahun dikenalkan pada masyarakat luas. Itu pun baru sebatas promosi lisan dari mulut ke mulut. Meski begitu, sejumlah wisatawan asing sudah kerap dating ke pantai Nganteb untuk surfing atau beselancar air.

Di wilayah pantai Malang Selatan, barangkali hanya pantai Nganteb inilah tempat paling cocok berselancar. Deru gelombang mengalun demikian rancak dan terlihat kemayu. Halus sekali. Ombaknya tak begitu besar, tapi merata. Ombak seperti inilah yang menjadi kesukaan penggemar surfing. Apalagi di dasar laut yang berada sekitar 200 meter dari bibir pantai tak ada karang. Hanya pasir putih.”Kalau Sabtu dan Minggu, di pantai ini pasti ada turis asing dari Australia, Inggris, Amerika, atau Selandia Baru bermain Surfing. Semua peralatan surfing dititipkan di sini,” ungkap Supi’I, pengelola Pantai Ngantep.

Meurut Supi’I, pengelola Pantai Nganteb saat ini bergeliat melakukan pengembangan dan promosi . Sejumlah titik di sekitar pantai sedang dilakukan pembenahan. Bahkan, sudah berdiri penginapan bagi wisatawan di Nganteb. Di penginapan yang berada sekitar 200 meter dari bibir pantai itulah, para turis tinggal.”Mereka sudah merasa cocok di pantai ini. Selain memang indah dan masih perawan, juga bisa untuk surfing,”ungkap pria yang juga pegawai Perum Perhutani ini.

Untuk memperbesar jumlah kunjungan, pengelola Pantai Nganteb mulai aktif melakukan berbagai kegiatan di pantai ini. Salah satunya lomba memasak bagi ibu-ibu PKK se-Kecamatan Bantur yang dilakukan Oktober lalu. Pengelola juga sudah mengawali acara Suroan dan wayangan mulai tahun lalu.

Usai dari Pantai Nganteb, rombongan JSP sempat mampir ke Pantai Wonogoro yang letaknya berhimpitan dengan Pantai Nganteb. Sayang, pantai ini tak terawat dengan baik. Banyak kotoran berserakan di bibir pantai. Tidak banyak pepohonan di pinggir pantai sehingga membuat suhunya terasa panas. Apalagi sekitar pantai banyak dijadikan tambak udang. Padahal, Pantai Wonogoro sebenarnya memiliki pemandangan laut yang bagus.

untuk rafting di probolinggo dengan harga murah klik disini

 

Pantai Sendangbiru

Pantai Sendangbiru

Memasui hari kesepeuluh, eksplorasi tim jelajah seribu pantai (JSP) menembus pantai sendangbiru, Dusun Sendangbiru, Desa Tambakrejo, Sumber manjing Wetan. Berangkat dari Goa China pada malam hari, tim JSP yang terdiri dari Abdul Mtholib (wartawan), Doli siregar (fotografer), Jigur (driver), dan tiga guide lokal (Lugu Wasono,Agus Black, serta Singyo Mahmudi) tak terlalu ada kendala hanya butuh waktu 15 menit menuju pantai yang terkenal dengan tempat perdagangan ikan tersebut. Jalan dari Pantai Goa China menuju Pantai Sendangbiru pun juga mulus melalui jalur lintas selatan (JLS). Dari JLS masuk menuju bibir pantai pun juga sudah beraspal. Hanya sebagian jalan saja yang aspalnya mengelupas. Namun praktis perjalan dengan mobil Chevrolet Colorado double cabin 2.500 cc cukup lancar. Tim JSP tiba di Pantai Sendangbiru pukul 20.00. maksud hati ingin perjalanan menuju Pulau Sempu, namun karena terlalu malam, tim JSP memilih melepas lelah di pos pemantauan di bibir pantai hingga pagi. Di lokasi itu pula tim JSP memasak untuk menghilangkan rasa lapar.

Selama satu hari penuh, tim JSP mengeksplorasi potensi wisata Pantai Sendangbiru. Salah satu daya taik pantai ini adalah pasar ikan di tempat pelelangan ikan (TPI) dan wisata naik perahu diesel kelilng pantai. Mayoritas wisatawan datang unutk naik perahu dan belanja ikan karena harganya yang sangat murah. Untuk view pantai, Sendangbiru sudah tak menarik lagi. Apalagi bibir pantai hanya dipenuhi perahu nelayan dan terlihat kotor di pesisir pantai. Abrasi parah terjadi di sisi barat pantai. Pandangan pun tak bisa lepas jauh karena terhalang Pulau Sempu.

Keberadaan Pantai Sendangbiru yang terkenal itu, tak bisa lepas dari adanya sendang (sumber mata air) dibawah bukit yang airnya berwana biru. Sendang itulah yang menjadi cikal bakal populernya pantai tersebut hingga kini.

Posisi Sendang sekitar 1 kilometer daari arah barat pantai. Dari pantai naik ke perkamoungan menuju jalsur lintas selatan. Di sebelah kiri jalur lintas selatan dari arah pantai ada jalan setapak menuju bawah bukit. Di situlah sumber air yang luasnya 10×8 meter dengna kedalaman 2,5 meter.

Warna airnya biru. Ada dua sendang di kawasan tersebut. Selain Sendangbiru juga ada Sendanggambir. Namun debit sumber air Sendangbiru lebih besar. Dari dua sendang irulah warga kawasan Sitiarjo dan sekitarnya bergantung. “Dari desa ini (Tambakrejo), pantai Sendangbiru pertama dibuka pada tahun 1970. Hanya waktu itu masih nelayan lokal. Baru pada 1980-an, nelayan dari luar daerah sudah masuk sini,” ungkap Dwi Adi Yulianto, pengurus pokmaswas (kelompok Masyarakat Pengawas) Pantai Sendangbiru.

Sentra Industri Kapal Nelayan

Selain sebagai pusat transaksi jula beli ikan segar, Pantai Sendangbiru juga dikenal sebagai tempat pembuatan kapal nelayan. Sejumlah kapal – kapal nelayan diproduksi di bibir pantai ini. Seperti industry yang digarap oleh M.Ishak, warga asal Ambon yang sudah menggarap rantusan kapan nelayan. Dia selalu dibantu menantunya, Muhammad Syam mengerjakan setiap kapal dengan durasi waktu rata –rata 2,5 butan untuka satu kali kapal berukuran 15×3 meter. Ini termasuk kapal dengan ukuran sedang. Harga kapal itu mencapai Rp 180 juta. “Kalau kapal tuna (ukuran dua kali lipat dari perahu nelayan), harganya bisa Rp 300 juta.” Tandas Ishak.

Saat ini, Ishak dan Syam masih konsentrasi menuntaskan perahu nelayan untuk pemancingn di laut lepas. Semua bahan menggunakan kayu jati. Agar perahu yang digarap nanti bisa awet minimal 10 tahun, ia hanya menggunakan pasak dengan kayu. Ia sama sekali tidak menggunakan bahan dari besi seperti paku. Sebab sekuat apapun bahan besi kalau terkena air laut hanya bertahan 3 tahun. “Yang agak susah memang pasak dari kayu, tapi hasilnya bisa dijamin awet Mas,” tandas dia.

Lokasi penggarapan kapal ini berada persis di bibir pantai Sendangbiru. Tugas Ishak adalah mulai merancang, memasang, dan menyetel ukuran yang pas. Sedang tugas lain sudah digarap dari pekerja lain. “Kapal segala jenis pernah saya bikin. Ini saja saya sudah punyak order 2 perahu tuna besar,” tandas Ishak.

Kapal garapannya, menurut Ishak, sudah dipakai nelayan dari berbagai kota. Ini karena dalam membuat kapal lebih prioritas pada mutu. Selain urusan pasaknya, ia juga hati – hati dalam pengeleman. Karena lem untuk menyatukan kayu satu dengan lainnya harus benar – benar kokoh. Ini menentukan bocor tidaknya kapal. Karena itu ia tak mau diburu target waktu saat menggarap. “Harus ada campuran serabut saat pakai lem sehingga bisa dijamin tak bocor. Coba kalau lem biasa, dua atau tiga tahun saja kena air laut, kapal pasti bocor,” ungkap Ishak.

BERADA di Pantai Sendangbiru tak lengkap rasanya kalau tak merasakan petualangan di Pulau Sempu. Karena itu tim Jelajah Seribu Pantai (JSP) selama sehari semalam tinggal di tengah hutan Pulau Sempu. Dari bibir Pantai Sendangbiru menuju Pulau Sempu harus naik perahu motor. Jaraknnya sekitar 1 kilometer dengan durasi waktu 25 menit saja.

Masuk Pulau Sempu tak cukup bermodal nyali tinggi, tapi juga butuh fisik yang prima. Jika tanpa didukung fisik kuat, siap-siap berhenti di tengah hutan belantara dan tak sampai tujuan. Karena dari pintu masuk Pulau Sempu di Teluk Semut menuju Segara Anakan, butuh paling cepat 1,5 jam dengan jalan kaki. Jaraknya sekitar 2,7 kilometer melalui tanjakan, turunan, jalan licin, serta menembus semak belukar.

Di sepanjang jalan setapak di pulau yang masih banyak dihuni hewan liar seperti ular phyton, babi, macan kumbang, monyet tersebut dipenuhi akar – akar pohon menjalar. Akar – akar dari pepohonan besar itu bersilangan yang cukup menyulitkan perjalanan kaki. Dari ujung jalan masuk hingga sampai di Segara Anakan, nyaris dipenuhi akar – akar yang licin itu. Perjalanan ini benar – benar menguji andrenalin. Belum lagi ada kekhawatiran jika sampai bertemu dengan hewan buas.

Tim JSP yang ditemani Suparman, pemandu wisata Pulau Sempu serta turis asal Valencia, Spanyol Pedro Blasco harus istirahat dua kali selama perjalanan itu. Beban berat berupa tenda, peralatan masak, bahan masakan, dan peralatan lain membuat tim JSP sangat kelelahan.

Karena itu, begitu sampai di Segara Anakan, tim JSP setelah memasang tenda langsung tidur . Beruntung, selama perjalanan sama sekali tak bertemu hewan buas. Hanya ada beberapa monyet bergelantungan di pohon yang berada dekat dengan jalan setapak. Namun monyet itu sama sekali tidak menganggu.

Pesona Segara Anakan memang cukup memikat. Di situ ada karang bolong. Dari batu karang yang berlobang di pojok tebing yang mengelilingi segara anakan itulah air ombak dari laut lepas masuk hingga membentuk semacam laut kecil yang disebut Segara Anakan.

Luasnya sekitar 100 meter x 500 meter. Lokasi Segara Anakan itu masih berada di dalam Pulau Sempu. Di pinggir Segara Anakan terhadap tanah lapang yang biasa dijadikan lokasi perkemahan. Di tanah lapang inilah tim JSP mendirikan tenda dan bermalam.

Di sela – sela mengisi kekosongan waktu pada malam hari, tim JSP memilih memnacing di bibir lau lepas. Kebetulan Pedro Blasco, turis asal Spanyol yang bersama tim JSP membawa peralatan memancing secara lengkap. Posisi pemancingan agak naik ke batu karang. Sayang, dalam semalam memancing, hanya dua ikan kerapu merah yang berhasil di tangkap sekaligus jadi lauk enam orang untuk sarapan pagi.

Di Pulau Sempu, lokasi Segara Anakan dianggap paling favorit bagi wisatawan local dan asing. Sebab, selain jaraknya yang paling dekat dengan pintu masuk Teluk Semut, juga ada tanah lapang yang aman untuk camping. Selain itu, sewaktu – waktu gerah bisa memanfaatkan air laut di Segara Anakan.

Di Pulau Sempu sebenarnya ada 25 destinasi yang bisa jadi objek wisata. Di antaranya, Segoro Anakan, Pantai Pasir Panjang, Pantai Pasir Kemabar Dua, Telaga Lele, Teluk Gladakan, Pantai Pelawangan, Pantai Pondok Kobong, Pantai Waru – Waru, Pantai Baru – Baru, maupun Goa Macan.

Masing – masing destinasi ini memiliki keunggulan masing – masing. Telogo Lele misalnya, merupakan tempat kolam air yang memang banyak dihuni ikan lele. Hanya lele itu tidak boleh dipancing apalagi di bawah pulang ke rumah. “Kepercayaan kami, siapa saja yang membawa pulang ikan lele dari Sempu ini akan sulit keluar dan tersesat,” tandas Suparman, pemandu wisata Pulau Sempu.

Pantai Tamban

tamban

BUTUH waktu lima hari lebih untuk mengesplorasi potensi wisata alam di kawasan Kecamatan Sumbermanjing Wetan saja. Ini karena sangking banyaknya dan sangking luas wilayahnya. Perjalanan tim Jelajah Seribu Pantai (JSP) Jawa Pos Radar Malang mulai hari ke-8 hingga masuk hari ke-12 masih saja berada di wilayah Sumbermanjing Wetan.

Setelah keliling dari sudut ke sudut kawasan Sendangbiru, mulai panorama pantai, menembus hutan Rimba Pulau Sempu, menjelajah sendang warna biru dann melihat persiapan pembukaan Pantai Clungup sebagai tempat wisata, giliran tim JSP tiba di Pantai Tamban. Pantai ini masuk wilayah Dusun Tambakrejo, Sumbermanjing Wetan.

Dari Sendangbiru menuju Pantai Tamban butuh waktu sekitar 30 menit. Meski berada dalam satu desa, tapi arah jalannya harus memutar cukup jauh, sekitar 10 kilometer. Tak banyak jalan rusak parah. Perjalanan tim JSP relative lancer karena sebagian jalan beraspal, sebagian lain dicor. Tak banyak jalan dengan tanjakan curam, mayoritas jalan mendatar.

Sambutan ombak halus lembut nan-kemayu disuguhkan pantai ini begitu rombongan tim JSP tiba pada sore hari. Suara ommbaknya pun cukup pelan. Puluhan perahu kunting berjajar rapi bak tentara baris di tepian pantai. Mereka juga seolah melambai – lambai dan bergoyang oleh terpaan ombak. Perahu – perahu itu sengaja disandarkan menunggu si empunya berangkat melaut.

Deburan ombak kian malam kian membesar. Namun air laut tidak sampai naik ke pelataran area pengunjung yang sekaligus jadi tempat tim JSP menginap di bawah pos pemantau pantai. Pantai Tamban memang terkenal dengan tipikal ombaknya yang tenang pada saat – saat tertentu. Namun ombaknya akan berubah sangat ganas dalam waktu yang singkat. “Ombak di sini paling susah ditebak. Terkadang kelihatannya tenang saja, tapi sudah banyak korban kena gulung ombak di sini,” kata Firman, salah satu warga yang tinggal di tepian pantai.

Nama Tamban memiliki nilai sejarah yang cukup kuat. Tamban adalah bahasa Jawa yang artinya obat (tombo). Karena air di pantai ini, dulunya pernah menjadi obat bagi tiga kiai yang mengawalai tinggal di hutan dekat pantai ini pada 1880-an. Tiga kiai itu adalah Kiai Ngastowo, Kiai Mangun, dan Kiai Yaser. Sebelum mereka membuka hutan (babat alas), ketiganya izin lebih dulu kepada Kiai Truono Sumitro, salah satu sesepuh yang tinggal di Suwaru Gondanglegi (kini masuk Pagelaran). Setelah dapat restu, ketiganya memulai buka hutan.

Nah, di tengah proses buka hutan itu mereka kehausan sampai sakit. Sulit mencari air tawar waktu itu. Satu-satunya hanya air yang ada di sungai yang kotor. Mereka pun terpaksa meminumnya. Bukannya rasa haus dan sakit yang hilang, mulut mereka justru terasa pahit sekali.

Akhirnya mereka mencoba untuk meminum air laut di pantai. Anehnya, air laut berasa seperti air tawar dan sakitnya juga smbuh. Dari situlah mereka menjuluki air di pantai itu dengan air tamban alias air untuk obat.

Panik Diserbu Pasukan Kepiting

TIM Jelajah Seribu Pantai (JSP) Jawa Pos Radar Malang harus benar-benar siap mental dan fisik untuk menuntaskan misi eksplorasi pantai dari Pantai Modangan, Donomulyo sampai Pantai Licin, Ampelgading. Selama 12 hari berada di tepi pantai, berbagai rintangan telah dihadapi. Mulai masalah yang paling sepele hingga masalah serius.

Masalah sepele itu antara lain sulitnya mencari air tawar hingga tak mandiselama 4 hari, menahan sergapan dingin angin pantai di malam hari selepas kehujanan, mengusir nyamuk malaria, serta ancaman serangan ular bedor (jenis ular mematikan yang banyak di perkebunan), hingga gangguan kepiting pantai kala tidur di pasir pantai.

Gangguan kepiting ini cukup serig dialami tim JSP di malam hari. Di saat tim yang terdiri lima orang tersebut sedang nyenyak tidur di dalam tenda, tiba-tiba ada puluhan kepiting kecil (cuyu) masuk hingga ke dalam pakaian. Ini di alami Jigur DM dan Lugu Wasono, dua tim JSP ketika berada di Pantai Bantol, Donomulyo pada dini hari. Awalnya, mereka menganggap hewan merayap kedalam tubuh itu adalah semut. Sehingga, mereka tetap nyenyak tidur setelah hewan merayap itu dikibaskan dengan tangan. Kedua anggota Tim JSP yang tidur dalam 1 tenda itu bereaksi yang sama. Namun, setelah hewan merayap itu diusir dengan tangan, ternyata datang kepiting yang lain lagi. Begitu seterusnya hingga Jigur dan Lugu Wasono terbangun. Dan betapa kagetnya mereka, ternyata hewan yang merayap di dalam pakaian mereka itu ternyata kepiting pantai. Saking kagetnya, mereka sampai melompat dan maksudnya ingin berdiri. Saying karena tenda sangat kecil, ukuran luas 2×2 meter dan tinggi 1 meter, mereka menabrak tenda parasut tersebut. Tenda pun bergoyang-goyang membuat anggota tim lain yang tidur di tenda sebelahnya ikut terbangun. “Waduh untung saja tidak ada kepiting yang sampai menggigit anu saya tadi,” ungkap Lugu Wasono.

Karena keroyokan puluhan kepiting itu, tim JSP pun tak berani melanjutkan tidurnya hingga pagi hari. Di Pantai Bantol, Pantai Jonggring Saloko, Pantai Sendangbiru, dan Pantai Tamban pun sama. Kepiting merayap kemana-mana pada malam hari. Tempatnya terkadang di dalam lubang di pasir pantai, namun terkadang mereka masuk ke dalam air laut. Kepiting inilah yang menjadi santapan ikan-ikan laut. Untuk menghindari sergapan ikan, kepiting itu lari kedaratan pada malam hari. Banyaknya kepiting ini malah dimanfaatkan oleh Sinyo Mahmudi, anggota Tim JSP yang lain. Ia mengumpulkan kepiting itu dalam kaleng yang selanjutnya ia masak untuk jadi santapan bersama.

Kendala lain yang tak kalah serius dihadapi Tim JSP adalah gigitan nyamuk malaria. Hampir di semua pantai, nyamuk malaria ini bertebaran. Tim JSP terkadang agak kerepotan menghindari nyamuk ini. Kalau pakai pakaian dan selimut tebal, kondisi cuaca terkadang gerak akibat mendung. Sebaliknya, jika tanpa selimutan saat tidur, tentu saja jadi santapan empuk nyamuk malaria. Karena olesan obat anti-nyamuk saja tidak mempan. Karena itu satu-satunya cara selalu melakukan pengusiran dengan pengasapan. Bukan pakai fogging; namun membakar kayu-kayu hutan tepi pantai yang sudah berserakan untuk menimbulkan asap. Menjelang tidur malam di tepian pantai, aktifitas tim JSP selalu bikin api anggun di dekat tenda. Tujuanya agar nyamuk tak berani mendekat saja.”Kalau tak pakai pengasapan, saya mending tak tidur saja. Saya takut kalau sampai digigit nyamuk malaria sehingga kesehatan terganggu,” tandas Sinyo Mahmudi.

Sinyo memang tak takut pada kepiting. Namun ia paling khawatir kalau sampai ada ular. Karena itu, setiap tenda didirikan dan siap ditempati, ia langsung mengambil garam untuk ditebar mengelilingi tenda. Tujuanya agar tidak ada ular yang mendekat tenda, apalagi sampai menggigit.

Batu Sekambing, Daya Tarik Kedung Ijo

KAWASAN Pantai Tamban, Dusun Tambakrejo, Sumbermanjing Wetan sangat subur. Hampir seluruh pepohonan di lahan persawahan dan lading sangat segar seolah tak mengenal kemarau. Ini bisa di maklumi, karena air sumber begitu melmpah. Rumah-rumah penduduk di pinggir pantai pun dialiri air tawar nan bening.

Melimpahnya air itu salah satunya berasal dari Kedung Ijo. Air di Kedung Ijo juga mengalir ke muara pantai Tamban. Airnya sangat bening dan segar. Tak banyak orang memanfaatkan air segar Kedung Ijo ini. Maklum, warga sekitar pantai sudah kecukupan air bersih. Sehingga, limpahan air Kedung Ijo banyak terbuang langsung ke pantai. “Paling-paling orang ke Kedung Ijo ini hanya untuk memancing,” terang Firman warga penghuni bibir pantai.

Posisi Kedung Ijo ini berada di sisi sebelah timur pantai. Air yang mengalir dari Kedung Ijo menyisiri tebing yang dipenuhi dengan batu-batu raksasa. Bahkan, karena adanya abrasi laut, sebagian tebing longsor. Banyak batu-batu besar yang jaruh ke kedung ini. Karena itu, di dasar kedung berserakan batu-batu seukuran kambing. Justru keadaan batu itulah menambah suasana kedung semakin kelihatan natural.

Namun, di sisi sebelah utara kedung masih seperti kolam besar. Airnya bening nan segar bisa untuk area berenang. Lokasinya agak jauh dari tebing sehingga tidak sampai ada batu yang longsor. Ikan-ikan air tawar pun menghiasi Kedung ini bisa menambah daya tarik wisatawan yang ingin mencari ikan. “Kedepan, kalau pantai ini sudah dikelola maksimal, di Kedung Ijo bisa diberi permainan perahu untuk anak-anak keliling,” tambah pria asal Plaosan Kota Malang ini.