Jangan Lewatkan!
Home » Jatim » Wisata Religi » Makam Asta Tinggi

Makam Asta Tinggi

Makam Asta Tinggi

Asta Tinggi adalah makam megah yang berada di desa Kebunagung, sekitar 2,5 Km sebelah barat-laut kota Sume-nep, Asta Tinggi memiliki dua bangunan utama, Yang per-tama berada di sebelah barat, terdapat bangunan pendopo lama dan tiga atap kuburan, Pendopo sederhana ini, pada jaman dahulu digunakan untuk metakukan pertemuan. Sekitar 1,5 km dari Asta Tinggi terdapat keraton Sumenep.
Atap pertama berada di sebelah barat, terdapat makam Pangeran Pulang Jiwo. Atap kedua yang berada di utara adalah makam Pangeran Jimat, dan atap terakhir yang condong ketimur adalah makam Bindoro Saud dan Ratu Raden Ayu Tirtonegoro. Bangunan tua ini dibangun pada tahun 1750 di bawah pemerintahan Bindoro Saud yang dijuluki Raden Tumenggung Tirtonegoro,

Bangunan kedua yang terletak di sebelah utara adalah yang terbesar, Pintu masuknya adalah gerbang yang cantik dan besar. Sekitar 2 meter dari pintu gerbang tadi terdapat prasasti yang ditulis dalam bahasa Arab. Gedung utama bangunan ini memiliki sebuah atap besar dan menarik karena arsitekturnya bergaya islam, China dan Eropa. Di dalam bangunan yang dibangun pada tahun 1763 oleh Aryo Noto Kusumo ini terdapat makam Arya Noto Kusumo I dan keturunannya.

Makam yang terkenal disana adalah makam Pangeran Jimat yang mentnggal pada tahun 1737. Pangeran Jimat adalah putra Pangeran Romo (Cokronegoro I!) yang mula-mula menjadi bupati Pamekasan dan kemudian pindah ke Sumenep.

Pada waktu itu Pamekasan dan Sumenep jadi satu ba-gian, Selain kedua wilayah tersebut, wilayah kekuasaan Pangeran Jimat juga meliputi Besuki dan Blambangan, sehingga banyak penduduk Sumenep dan Pamekasan yang pindah kesana. Karena Pangeran Jimat tidak dikaruniai putra, setelah beliau meninggat dunia pada tahun 1737, pimpinan kerajaan diserahkan pada keponakannya, yaitu Raden Alza yang bergelar Cokronegoro IV,

Selama menjabat, Raden Alza didampingi oleh Tumenggung Tirtonegoro, satu-satunya pemimpin wanita dalam sejarah Sumenep yang bergelar Ratu Tirtonegoro, Sayangnya pemerintahan Raden Alza tidak berlangsung lama. Raja Sumenep ini terpaksa melarikan diri karena di-serang oleh Pak Lesap. Kemudian pemerintahan dilanjutkan oleh Ratu Tirtonegoro. Beberapa tahun kemudian, Ratu Tirtonegoro kawin dengan Bendoro Saut yang diangkat menjadi bupati oleh kompeni dengan gelar Raden Tumenggung Tirtonegoro.

Share the joy
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •